Daftar Isi



> Cerita Di Balik Tugu Malang

Posted: Rabu, 16 Maret 2011 by Ipan A'shary W in
0
Share

Di bawah kibaran Sang Merah Putih bergeraklah revolusi kemerdekaan bagai banjir yang tak tertahankan, siap menghancurkan segala rintang. Kekuasaan harus diambil alih. Inisiatif yang diambil oleh rakyat bukan main hebatnya. Dalam beberapa waktu saja kekuasaan telah diambil alih oleh rakyat bahkan terkadang dengan cara merampas dari tangan tentara Jepang. Tak terkecuali di kota Malang, rakyat Malang menginginkan pemerintahan dijalankan oleh bangsa sendiri, semangat proklamasi mereka utarakan dalam semboyan-semboyan yang terlihat di gedung kantor Kabupaten, jalan-jalan di sekitar alun-alun. Tertulis antara lain : "Freedom to the glory of any nation" dan "Indonesia for the Indonesians". Coretan tangan pemuda Indonesia waktu itu dapat dijadikan gambaran semangat yang menggelora dan letupan rasa ingin menegakkan pemerintahan dan membangun bangsanya. Seperti halnya di Surabaya, di kota Malang dibentuk KNID serta BKR. Masa peralihan kekuasaan di kota Malang agak berbeda dengan di Surabaya (yang menjadi panas karena adanya campur tangan pihak Belanda dan Sekutu), walaupun terjadi insiden tidaklah hal itu mengganggu jalannya pemerintahan RI. Dengan dibentuknya Dewan Pimpinan Daerah yang diketuai oleh Residen Sam, maka pemerintahan di Kota Malang dapat berlangsung sebagaimana mestinya.


Semenjak saat itu dimulailah beberapa usaha-usaha penting untuk membangun kota Malang, diantaranya adalah : pembangunan Tugu Peringatan Proklamasi Kemerdekaan. Riwayat Pembangunan Tugu Peringatan Kemerdekaan Pada tanggal 17 Agustus 1946 diletakkan upacara peletakan batu pertama sambil meletakkan oorkonde dalam dasar di mana tugu tersebut akan didirikan. Isi oorkonde tersebut adalah untuk maksud peletakan batu pertama tersebut, maka akan dibangun tugu peringatan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Malang, dengan ditanda tangani oleh Bapak Doel Arnowo sebagai wakil gubernur Jawa Timur, Bapak Mr. Soekarno sebagai Residen Malang dan Bapak AG Soeroto sebagai Ketua Panitia Pembangunan Tugu. Namun demikian ketika tugu tersebut dalam keadaan selesai 95%, terjadilah aksi militer Belanda yang pertama. Maka jadilah tugu tersebut sebagai simbol keyakinan rakyat Malang akan keberhasilan mereka mempertahankan kemerdekaan, tugu tersebut menjadi lambing teguh kokohnya kemerdekaan bangsa Indonesia, sehinga timbul keyakinan rakyat Malang hingga sampai ke desa desa di sekitarnya bahwa selama tugu tersebut berdiri, semangat juang arek-arek Malang takkan dapat dipatahkan. Ketika Belanda mendengar akan keyakinan itu, tanggal 23 Desember 1948 tugu tersebut dihancurkan oleh tentara Belanda sehingga hanya tinggal puing-puingnya saja. Hamparan luas puing-puing di tengah rumput menghijau itu mengingatkan kembali suasan tempat itu pada masa penjajahan Hindia Belanda. Pada masa penjajahan Hindia Belanda, tempat di mana tugu tersebut didirikan dikenal dengan sebutan JP Coeplein, di tengah hamparan luas rumput menghijau terdapat air mancur yang indah, di timurnya terdapat rumah kediaman Prof Leber, pendiri RKZ (kini menjadi gedung DPR) dan di utaranya terdapat gedung kotapraja (gemeente, kini Balai Kota). Mengingat riwayat tersebut di atas itulah, maka segera setelah pengakuan kedaulatan dan setelah dikuasainya kembali kota Malang oleh pemerintah RI, rakyat mendesak agar tugu peringatan tersebut dibangun kembali. Untuk maksud itulah dibentuk panitia baru pada tanggal 9 Juni 1950.

Segera setelah tugu tersebut pulih kembali seperti sedia kala, maka pada tanggal 20 Mei 1953 bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional, tugu tersebut diresmikan oleh Presiden Pengertian Bentuk Tugu Peringatan Kemerdekaan Kota Malang Berdasarkan Perda No 4 /1970 Kotamadya Malang tentang Lambang Daerah Malang, kita dapat memperoleh Penjelasan tentang pengertian bentuk tugu peringatan kemerdekaan sebagai berikut: Jarum tugu terdiri dari 6 buah bamboo runcing, ialah senjata awal sebagai modal dasar dalam perjuangan menuntut kemerdekaan. Bambu runcing yang ada di tengah agak lebih tinggi sedikit daripada yang lain dan di atasnya terdapat keris pusaka warisan nenek moyang yang dihias dengan rangkaian bunga melati. Gelangan, yang mempersatukan perjuangan rakyat Indonesia dengan kemerdekaan yang dijunjung tinggi tidak dapat dipisahkan. Tempat lapisan batu berpenjuru lima, mempunyai arti tahun 45, tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Tangga atau undak-undakan yang bertingkat 8, mempunyai dasar 17, berarti tanggal 17 bulan 8, yaitu tanggal dan bulan lahirnya kemerdekaan Indonesia. Tugu peringatan kemerdekaan kotamadya Malang tersebut tegak berdiri dengan dikelilingi oleh kolam yang ditumbuhi oleh bunga teratai yang berwarna merah dan putih, lambing keberanian membela keberanian dan kesucian hati.

0 comments: